WARTABANGKA.ID, MENTOK – Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XIV Provinsi Bangka Belitung sudah memasuki hari ketiga. Di hari ketiga, giliran cabang tafsir bahasa inggris dan bahasa indonesia yang diperlombakan.
Lomba yang dimulai dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 wib ini dilaksanakan di
Operasional Room II, Sekretariat Daerah Kabupaten Bangka Barat, di Kecamatan Mentok, Minggu (9/11) pagi.
Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an ( LPTQ ) Bangka Barat Juandi mengatakan, peserta yang mengikuti lomba tafsir ini berjumlah sekitar 19 orang. Namun, tidak semua Kabupaten/Kota mengirimkan pesertanya karena cabang ini dinilai cukup berat.
“Tidak seluruh kabupaten kota mengirimkan peserta. Yang pertama peserta harus hafal Al Qur’an 30 juz yang bahasa Indonesia baru nanti bisa menafsirkan. Untuk bahasa Inggris itu dia persyaratannya harus mampu menghafal 18 juz baru nanti tafsirnya dijelaskan dalam bahasa Inggris,” kata Juandi.
Dikatakan Juandi, untuk lomba tafsir ini, Bangka Barat memiliki prestasi yang cukup membanggakan.
Hal itu terbukti perwakilan dari Bangka Barat mampu meraih juara pertama tafsir bahasa Indonesia putra dan putri serta juara 2 tafsir Bahasa Inggris putra dan putri pada MTQH Provinsi Babel di tahun lalu.
“Bangka Barat di tafsir bahasa Indonesia tahun kemarin juara 1 putra putri. Yang Bahasa Inggrisnya tahun kemarin kita juara dua putra putri sebagian itu ada yang di Bangka Induk yang mungkin berpotensinya besar dan Pangkalpinang,” jelasnya.
Juandi tak menampik, di cabang tafsir ini, Bangka Belitung hanya bisa masuk ke 20 besar saja di MTQH tingkat Nasional. Untuk bisa bersaing, harus dilakukan pembinaan lagi terhadap peserta.
“Kita harus pembinaan lagi karena cabangnya berat saingannya juga, kalau sudah bicara nasional memang luar biasa. Tentu pembinaan itu harus intens karena kalau hanya berdasarkan moment, memang agak sulit,” jelas dia.
Juandi menambahkan, menjaga hafalan Qur’an 30 juz, memang bukanlah hal yang mudah. Apabila tafsirnya sudah bagus namun hafalannya kurang baik, hal ini tentu saja dapat mengurangi nilainya.
“Ya memang kebanyakan yang menjadi peserta di cabang ini berasal dari pesantren,” sebut Juandi. ( IBB)












