WARTABANGKA.ID, AIR GEGAS – Petani di Desa Pergam menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Rusi, wakil pimpinan DPRD Kabupaten Bangka Selatan (Basel) serta Rina Tarol anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang turun langsung meninjau kondisi hulu Sungai Kemis, wilayah yang rusak diduga akibat aktivitas perambahan liar di hutan oleh perusahaan tanpa izin, Rabu (8/10).
Manager Brigade Pangan (BP) di Sawah Pergam Sandi mengatakan, kehadiran kedua wakil rakyat tersebut memberikan harapan baru bagi para petani atas keluhan mereka.
“Alhamdulillah, dengan hadirnya langsung Pak Rusi dan Ibu Rina, mereka bisa lihat sendiri kondisi sebenarnya di lapangan. Tidak ada lagi yang dibuat-buat, semua nyata di depan mata,” kata Sandi.
Menurut dia, langkah ini sangat penting agar semua pihak mengetahui kondisi hulu sungai Kemis yang menjadi sumber air utama bagi sawah petani Pergam dan Serdang yang sudah dirambah.
“Hari ini mereka lihat sendiri bagaimana rusaknya hulu sungai dan daerah resapan air. Kami berharap ini menjadi awal langkah nyata,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dari kegiatan yang juga di hadiri dari Tim DLHK Provinsi dan sejumlah OPD terkait dilingkungan Pemkab Basel. Pemkab akan menyelesaikan permasalahan tersebut dalam waktu satu minggu ke depan. Namun, masyarakat berharap janji itu benar-benar ditepati.
“Kita lihat saja janji Pemkab seminggu kedepan akan diselesaikan dan kita tunggu saja, jangan sampai janji palsu terus. Kami juga sudah capek undang sana undang sini tapi realita dilapangan tidak ada ketegasann,” tegasnya.
Bahkan kata dia, jika hal ini lagi-lagi tidak ada kejelasan maka para petani mengacam akan mengembalikan seluruh alsintan bantuan untuk petani sawah ke Pemerintah dan tidak lagi menggarap sawah yang saat ini tengah di dorong Pemerintah pusat dalam mendukung program ketahanan pangan daerah.
“Sekali lagi, kami sangat berterima kasih karena masih ada wakil rakyat yang peduli dengan kondisi kami di bawah. Mereka datang bukan hanya mendengar laporan, tapi langsung melihat sendiri,” ujarnya.
Ia berharap, hasil peninjauan tersebut segera direspons dengan tindakan nyata dari pemerintah daerah dan pihak berwenang.
“Kami hanya ingin sawah kami kembali aman, air untuk pengairan terjaga, dan tidak ada lagi perusahaan yang merusak hulu sungai. Itu harapan kami sebagai petani,” pungkasnya. (**)












