WARTABANGKA.ID, KOBA – Sejak Kamis pagi (28/8) di seputaran Kota Koba sudah ramai dipenuhi pedagang kaki lima, yang menjual aneka jenis makanan dan minuman, mulai dari sempol, sate, asinan, bakso bakar, es teh, hingga es jeruk.
Pasalnya di hari itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menggelar kegiatan pawai, karnaval, dan marching band dalam rangka memeringati HUT ke-80 Republik Indonesia (RI).
Pantauan wartabangka.id di lokasi, pedagang paling banyak berada di dekat panggung utama kehormatan, di Samping Bank Sumsel Babel Cabang Koba dan Alun-Alun Kota Koba, tempat finisih pawai karnaval.
Nampak pula, ribuan warga tumpah ke Jalan Raya Koba atau sepanjang kawasan Kota Koba untuk menyaksikan pawai karnaval di hari kedua kegiatan.
Kegiatan pawai karnaval ini juga menjadi ajang memulihkan ekonomi warga, karena banyaknya event yang digelar. Ratusan penjual pun tampak menjajakan dagangannya di sepanjang jalan.
Salah satu pedagang, Hendra (41) mengaku datang jauh-jauh dari Kota Pangkalpinang ke Kabupaten Bangka Tengah dengan harapan dagangan rujaknya habis terjual.
“Saya datang jauh-jauh dari Pangkalpinang, sekira jam 8 pagi mulai berjualan, moga hari ini laris manis,” ucapnya.
Sementara itu, Leni (47), pedagang asal Kelurahan Arung Dalam mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan pawai karnaval di Bangka Tengah, karena perekonomian tahun ini dirasa sangat menurun, imbas dari kasus timah yang terjadi.
“Alhamdulillah, jualan hari ini ramai sejak pagi. Semoga Bangka Tengah terus banyak event, biar kita dapat rejekinya terus,” tutur Leni, pedagang Empek-empek dan es teh.
Pedagang lainnya, Umar (30) mengaku dalam sehari bisa menjual ribuan tusuk sempol, jika ada event-event besar.
“Kalau ada event seperti ini, dagangan sempol saya lebih cepat habis, biasanya bisa 800 hingga 1000 tusuk lebih. Pendapatan pun ikut bertambah. Ini rezeki kami para pedagang,” ungkapnya.
“Satu tusuk sempol harganya Rp1.000, jadi dalam sehari bisa dapat Rp800 ribu hingga Rp1 juta,” sambungnya.
Ia berharap event serupa lebih sering dilaksanakan. Sehingga, roda ekonomi kembali berputar. Sebab, selama pandemi, mereka cukup kesulitan menjual dagangannya ke masyarakat.
“Kalau dibandingkan tahun kemarin, omzet kali ini lebih turun, semoga makin pulih, dagangan semakin laris, Bangka Tengah semakin maju,” tutupnya. (**)












