WARTABANGKA.ID – Tim Dosen Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung (UBB) mengelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Tingkat Sekolah di SMA Negeri 3 Pangkalpinang, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang Jumat kemarin (22/8).
Topik tema yang diangkat yakni terkait “Sosialisasi Politik : Pentingnya Partisipasi Politik Pada Pemilih Pemula Di SMA Negeri 3 Pangkalpinang”.
Dosen Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung, Kharis Kurnia, S.E., M.Si mengatakan kegiatan ini berfokus dalam memberikan pendidikan dan pemahaman politik terhadap generasi muda khususnya para siswa dan siswi sekolah menegah atas yang telah memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalam acara pemilihan umum.Kursus online terbaik
Ia mengatakan, kegiatan sosialisasi ini menghadirkan 7 dosen Universitas Bangka Belitung (UBB), yakni Kharis Kurnia, S.E., M.Si., Khalid Vikriadi, B.H.Sc., M.H.Sc., Muhammad Amir Yusuf, S.I.P., M.A., Riky Ovaliansyah, S.Sos., M.I.P., Apsas Saputra, S.A.P., M.A.P., Jamal Din Aulia, S.Hun.Int., M.H.I., Endah Kurniati., S.S., M.H.I.
“Dalam pelaksanaannya kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan penguatan agar siswa-siswi SMA Negeri 3 Pangkalpinang turut berpartisipasi dalam pemilihan umum sebagai pemilih pemula,” katanya.
Dikatakannya, sesi awal materi disampaikan oleh Muhammad Amir Yusuf, M.A. yang menjelaskan mengenai sejarah pemilihan umum dimulai dari abad kuno, abad pertengahan, serta abad modern.
Lebih lanjut, pemateri juga menyinggung terkait sejarah pemilu yang demokratis di Indonesia mulai tahun 1955 pada saat memilih anggota DPR pada 29 September 1955 dan juga memilih anggota Konstituante pada 15 Desember 1955.
Sementara itu, pemateri juga melanjutkan penyampaian pemaparan terkait proses pemilu yang dilakukan di masa orde baru dan masa reformasi.
Sementara untuk sesi kedua disampaikan oleh Apsas Saputra, M.A.P. yang memaparkan terkait pelaksanaan demokrasi yang mengacu pada frasa Abraham Lincoln (Presiden Amerika Serikat) yang menyatakan bahwa demokrasi berasal “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat“.
“Dalam hal ini, frasa tersebut menekankan bahwa kekuasaan tertinggi dalam sebuah pemerintahan berasal dari rakyat, kemudian dijalankan oleh rakyat (melalui perwakilan yang telah dipilih), serta berujung untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.
Sealin itu kata Dia, pemateri juga menyampaikan edukasi terkait prinsip demokrasi dalam pemilu seperti halnya pertama, kedaulatan rakyat (berarti bahwa suara rakyat harus dihargai dan diperhitungkan secara adil). Kedua, keadilan pemilu (berarti bahwa semua peserta pilkada memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi). Ketiga, transparansi (berarti bahwa proses pemilu harus transparan serta dapat diawasi oleh semua pihak baik oleh Bawaslu, media, serta masyarakat. Terakhir, akuntabilitas (berarti bahwa hasil pemilu dapat dipertanggungjawabkan serta tidak boleh merugikan pihak manapun).
Sesi terakhir disampaikan oleh Riky Ovaliansyah, M.I.P. yang menjelaskan mengenai fenomena kotak kosong dalam pemilu. Fenomena tersebut terjadi biasanya merujuk pada saat situasi bahwa hanya terdapat calon tunggal (satu pasangan calon) yang maju dalam pemilihan umum.
Lebih lanjut, pemateri juga memberikan edukasi terkait apa saja yang harus diperhatikan bagi pemilih pemula pertama yakni terkait memastikan terdaftar sebagai pemilih. Kedua, memahami persyaratan sebagai pemilih. Ketiga, mencari tahu rekam jejak kandidat. Keempat, mengikuti perkembangan pemilu. Kelima, memilih untuk tidak golput. Keenam, memahami aturan pemilu. Terakhir, menjadi agen kontrol sosial.
“Para peserta yang terdiri dari siswa dan siswi kelas 12 SMA Negeri 3 Pangkalpinang juga diberikan pemahaman terkait mengapa penting bagi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu,” katanya.
Feriawan, S.pd, selaku perwakilan dari SMA Negeri 3 Pangkalpinang sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh para dosen Ilmu Politik UBB ini, besar harap adanya sosialisasi ini untuk mendorong para pemilih dalam keterlibatan di pemilu terutama bagi pemilih pemula.
Dalam hal ini, beberapa data menunjukkan bahwa Tingkat partisipasi aktif bagi pemilih pemula dapat dikatakan skalanya lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti halnya kurangnya edukasi terkait politik, adanya rasa apatis terhadap sistem politik hingga adanya pergeseran dan perubahan dalam pandangan generasi muda saat ini untuk menjadi apolitis atau ketiadaan minat terhadap politik. Hal ini menjadi penting mengingat bahwa semakin tinggi partisipatif pemilih maka semakin tinggi juga kualitas demokrasi suatu negara.
Atas dasar hal tersebut, poin penting dalam kegiatan sosialisasi ini bertujuan menstimulasi para pemilih pemula yang dikategorikan sebagai individu – individu yang baru pertama kali memiliki hak suara agar dapat memainkan peran penting dalam menentukan masa depan bangsa melalui hak pilihnya sehingga menciptakan demokrasi yang ideal.(ADV)












