Penulis : Abdurrahman Afif
Mahasiswa Magister Manajemen
Universitas Bangka Belitung
Penerimaan anggota Polri merupakan salah satu langkah strategis dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang akan menjadi garda terdepan penegakan hukum dan perlindungan masyarakat. Dalam konteks visi besar Indonesia Emas 2045, institusi Polri memegang peran vital untuk mewujudkan masyarakat yang aman, damai dan berdaya saing global.
Tantangan besar yang dihadapi saat ini, seperti isu ketahanan pangan, pemberantasan judi online dan peredaran narkoba, membutuhkan manajemen perubahan yang adaptif, inovatif dan strategis, terutama dalam proses seleksi dan pembinaan anggota Polri.
1. Tantangan Ketahanan Pangan sebagai Sinergi Polri dan Pertanian
Ketahanan pangan adalah isu strategis yang menjadi prasyarat utama untuk mencapai kedaulatan nasional. Dalam mendukung swasembada pangan, Polri memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan pertanian dan memastikan keberlanjutan distribusi pangan yang adil. Penyalahgunaan wewenang, praktik korupsi dalam distribusi pangan, dan gangguan keamanan lahan pertanian menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Manajemen perubahan dalam penerimaan anggota Polri harus mengedepankan rekruitmen calon anggota yang memiliki pemahaman dan kepedulian terhadap sektor pangan. Dengan demikian, Polri dapat melahirkan personel yang tidak hanya ahli dalam penegakan hukum tetapi juga mampu bersinergi dengan petani, pemerintah daerah, dan kementerian terkait untuk menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan. Program pendidikan dan pelatihan khusus terkait pengawalan sektor pangan, pengelolaan konflik agraria, dan pengawasan distribusi logistik menjadi elemen krusial yang harus dimasukkan dalam kurikulum Polri.
2. Menghadirkan Regulasi yang Tangguh dalam Pemberantasan Judi Online
Judi online merupakan salah satu ancaman serius yang merusak moral masyarakat dan memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga. Peredaran judi online yang semakin masif memerlukan pendekatan holistik, tidak hanya melalui tindakan represif, tetapi juga pencegahan dan edukasi. Polri harus menjadi motor utama dalam menginisiasi perubahan pola pikir masyarakat tentang bahaya judi online.
Dalam proses penerimaan anggota Polri, diperlukan penguatan seleksi yang mengedepankan integritas, kemampuan digital, dan literasi teknologi. Anggota Polri yang terampil dalam analisis digital dapat menjadi ujung tombak pemberantasan sindikat judi online yang memanfaatkan teknologi canggih. Kolaborasi dengan lembaga lain, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, dapat meningkatkan efektivitas operasi pemberantasan judi online.
Selain itu, kampanye literasi digital yang didukung oleh Polri dapat menjadi salah satu upaya preventif untuk menekan angka partisipasi masyarakat dalam judi online. Hal ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya berperan sebagai institusi represif, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial.
3. Memutus Mata Rantai Kejahatan dalam Melawan Narkoba
Peredaran narkoba di Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagai ancaman nasional, narkoba tidak hanya merusak generasi muda tetapi juga menjadi sumber utama pendanaan bagi sindikat kejahatan. Dalam konteks ini, penerimaan anggota Polri harus diarahkan pada pembentukan personel yang memiliki komitmen tinggi untuk melawan narkoba, baik melalui tindakan hukum maupun rehabilitasi korban.
Manajemen perubahan dalam Polri harus dimulai dari proses rekrutmen yang transparan dan berintegritas. Seleksi yang ketat terhadap calon anggota Polri, termasuk tes psikologi dan integritas moral, menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa mereka tidak memiliki potensi untuk terlibat dalam jaringan narkoba. Setelah bergabung, anggota Polri harus dibekali dengan kemampuan investigasi dan pendekatan humanis dalam menangani korban penyalahgunaan narkoba.
Selain itu, penguatan kerjasama internasional dalam memberantas narkoba lintas negara harus menjadi prioritas. Polri perlu meningkatkan kapasitas anggota dalam memahami dan menangani kejahatan transnasional. Dengan demikian, Polri dapat memainkan peran signifikan dalam memutus mata rantai peredaran narkoba secara global.
4. Peran Polri sebagai Pilar Kekuatan Negara mencapai Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 adalah visi besar yang menargetkan Indonesia sebagai negara maju, mandiri, dan sejahtera pada peringatan 100 tahun kemerdekaannya. Untuk mewujudkan visi ini, Polri harus memainkan peran sentral dalam menjaga stabilitas keamanan, melindungi kepentingan nasional, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Manajemen perubahan dalam Polri harus diarahkan pada pembentukan organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Reformasi birokrasi, modernisasi teknologi, dan peningkatan kualitas SDM menjadi pilar utama transformasi Polri. Dalam hal ini, penerimaan anggota baru harus berbasis pada meritokrasi, profesionalisme, dan inovasi.
Polri juga perlu mengembangkan program-program pengabdian masyarakat yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Misalnya, mendukung program swasembada pangan melalui pengawalan distribusi benih dan pupuk, serta pemberantasan mafia pangan yang merugikan petani. Dalam konteks pemberantasan narkoba dan judi online, Polri dapat menginisiasi gerakan nasional yang melibatkan masyarakat sebagai mitra strategis.
5. Rekomendasi untuk Implementasi Manajemen Perubahan
Untuk memastikan keberhasilan manajemen perubahan dalam penerimaan anggota Polri, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diimplementasikan:
1. Penguatan Sistem Rekrutmen Berbasis Teknologi dalam Transparansi proses seleksi dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi, seperti sistem aplikasi online dan uji kompetensi berbasis digital.
2. Peningkatan Kurikulum Pelatihan Polri perlu mengintegrasikan materi terkait ketahanan pangan, literasi digital dan penanganan narkoba dalam pelatihan anggota baru.
3. Pembangunan Kultur Organisasi yang Inklusif dalam Membangun budaya organisasi yang mendukung inovasi, kolaborasi, dan integritas moral di internal Polri.
4. Kolaborasi Antarinstansi untuk memperkuat kemitraan dengan kementerian, lembaga internasional dan masyarakat sipil untuk menghadapi tantangan nasional.
Penerimaan anggota Polri bukan sekadar proses administratif, tetapi merupakan upaya strategis untuk mencetak SDM unggul yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Dengan pendekatan manajemen perubahan yang adaptif, Polri dapat berkontribusi secara signifikan dalam mendukung swasembada pangan, memberantas judi online, dan memerangi narkoba.
Hal ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang semakin kuat dan berdaya saing, sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Polri, sebagai institusi penegak hukum, harus terus melakukan transformasi agar dapat menjadi simbol keadilan dan keamanan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Penerimaan anggota Polri merupakan elemen strategis dalam penguatan institusi penegak hukum guna menghadapi tantangan nasional yang kompleks, seperti ketahanan pangan, pemberantasan judi online, dan narkoba. Dalam kerangka visi Indonesia Emas 2045, proses ini harus diintegrasikan dengan manajemen perubahan yang berbasis pada transparansi, profesionalisme, dan inovasi. Reformasi dalam sistem rekrutmen, penguatan kurikulum pelatihan, serta pembangunan kultur organisasi yang inklusif menjadi prasyarat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.
Polri diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum secara represif, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan yang mendorong transformasi sosial, mendukung kebijakan pembangunan nasional, dan memastikan keadilan bagi seluruh masyarakat. Dengan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, Polri dapat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan stabilitas keamanan, keadilan, dan kedaulatan negara. Hal ini menjadikan institusi Polri sebagai pilar penting dalam upaya mencapai tujuan besar Indonesia sebagai negara maju, mandiri, dan berdaya saing global pada tahun 2045. (**)










