Opini
Devi Valeriani
Dosen FEB Universitas Bangka Belitung
WARTABANGKA.ID – Pemerintah pusat sejak awal 2025 meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya menekan stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program ini menyasar rangkaian penerima yang sangat luas dan memobilisasi pasokan pangan dalam jumlah besar dari hulu ke hilir.
Di tingkat nasional, tekanan harga pangan menjadi salah satu perhatian utama pembuat kebijakan karena kelompok makanan, minuman, dan tembakau konsisten memberi andil besar terhadap inflasi indeks harga konsumen, kondisi pada Oktober 2025, inflasi nasional tercatat 0,28% (m-to-m) dan 2,86% (yoy).
Pengamatan ini menjadi latar penting saat MBG mulai menyerap permintaan pangan skala besar. Wilayah Bangka Belitung, termasuk wilayah yang merasakan dinamika harga juga menunjukkan gejolak. Provinsi Bangka Belitung, mencatat inflasi bulanan 0,49% pada Oktober 2025, lebih tinggi dibandingkan beberapa provinsi lain di Sumatera, dengan andil komoditas pangan tertentu terlihat signifikan dalam pergerakan indeks. Kombinasi MBG yang memerlukan pasokan protein (ayam, telur), sayuran segar, dan beras, dengan gangguan pasokan musiman (panen jagung, panen sayur) menciptakan risiko mismatch antara permintaan dan ketersediaan.
Ketika permintaan meningkat tiba-tiba, harga di pasar tradisional dapat merespons cepat. Pendekatan ini relevan untuk memahami lonjakan harga komoditas tertentu di lapangan. Di Bangka Belitung mulai menunjukkan fenomena seperti penurunan pasokan ayam di beberapa pasar tradisional yang kemudian mendorong kenaikan harga lokal. Di Mentok dan Pasar Sungailiat dilaporkan harga ayam naik ke kisaran Rp38.000–Rp45.000 per kg pada periode menjelang akhir 2025, dan pedagang menyebut sebagian stok terserap oleh kebutuhan program MBG. Secara nasional, BPS mencatat kenaikan harga daging ayam ras pada periode akhir kuartal-III hingga kuartal-IV 2025 rata-rata nasional bergerak mendekati Rp38.000 per kg pada beberapa bulan, sejalan dengan penurunan produksi pakan yang menjadi salah satu pendorong biaya produksi unggas.
Tren ini memberi konteks bahwa MBG dapat mempercepat tekanan permintaan, namun hubungan kausal langsung MBG terhadap inflasi mulai terlihat.
Di satu sisi MBG memang meningkatkan permintaan pada komoditas tertentu, namun pada sisi lain, faktor struktural (biaya pakan, logistik, musim panen, nilai tukar) juga memainkan peran besar dalam menentukan harga akhir di pasar, hal ini menjadi sebuah pernyataan bahwa MBG menimbulkan dampak berantai, dimana permintaan pada komoditas tertentu meningkat sementara pasar tradisional kehilangan akses pasokan yang biasanya disalurkan ke rumah tangga yang akhirnya menimbulkan kelangkaan sementara.
Di Bangka Belitung, komoditas selain ayam juga menjadi pemicu inflasi lokal seperti bawang merah dan beras pernah tercatat sebagai salah satu pendorong inflasi tahunan, sehingga setiap tekanan permintaan ekstra akan memperbesar volatilitas harga. Pemerintah pusat menyatakan bahwa MBG sebagai investasi jangka Panjang, untuk peningkatan SDM dan pencegahan stunting. Pelaksanaan MBG sebaiknya diiringi dengan penambahan pasokan lokal, mekanisme stok buffer daerah dan penguatan logistik agar pasokan tidak terkonsentrasi pada distributor tertentu, sehingga langkah-langkah ini dapat memitigasi tekanan inflasi jangka pendek. Sebenarnya Program MBG merupakan peluang bagi pelaku usaha mikro dan peternak lokal, serta membuka pasar baru yang besar. Program ini menumbuhkan harapan besar karena dapat menghadirkan pasar yang lebih pasti, stabil, dan berkelanjutan. Dengan meningkatnya permintaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan menu harian, pedagang berharap adanya penjualan yang lebih konsisten tanpa fluktuasi harga yang tajam. Pedagang juga berharap pemerintah memberikan harga acuan yang transparansi dalam skema pembelian, serta jaminan bahwa pelaku usaha kecil tetap mendapat ruang berjualan tanpa digeser oleh distributor besar, sehingga program ini benar-benar menjadi berkah bagi ekonomi lokal.












