Keluarga ZH Resmi Buat Laporan Dugaan Perundungan ke Polres Bangka Selatan

WARTABANGKA.ID, TOBOALI – Dhony, paman dari ZH (10) secara resmi membuat laporan terkait dugaan kasus perundungan (Bullying) yang dialami siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Toboali hingga menyebabkan korban meninggal ke Polres Bangka Selatan (Basel), Senin (28/7).

Ia terlihat keluar dari Ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) didampingi Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) sambil membawa lembaran surat tanda bukti laporan dari kepolisian.

Kepada wartawan, Dhony menyampaikan bahwa laporan tersebut dibuat untuk menindaklanjuti dugaan kematian keponakannya yang diduga kuat akibat menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah.

“Melalui ini, kami pihak keluarga untuk terus mengejar kejadian dugaan tindakan perundungan terhadap keponakan saya dan akan kita kejar,” katanya.

Dia juga menyesalkan, statement kepala sekolah yang dimuat pada pemberitaan di media bahwa kasus tersebut tidak adanya tindak perundungan secara kekerasan fisik, melainkan hanya verbal.

“Terkait statement kepala sekolah di media itu, kita berani mengambil langkah autopsi apabila kejadian ini benar-benar terjadi bullying secara fisik maka kepala sekolah tadi harus berani mempertanggungjawabkan statement dia baik secara institusi maupun secara hukum,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata dia, pertanggungjawaban yang diminta jika secara institusi dia wajib mundur dari jabatan dan jika secara hukum harus mempertanggungjawabkan statementnya.

Menurut dia, keponakan jadi korban setelah menceritakan kejadian yang mengalami akibat diduga perundungan itu. Dimana, kejadian itu korban menyebabkan luka serius bahkan hingga tidak bisa mengingat lagi anggota keluarga.

“Hal itu diketahui awalnya sama nenek, dimana pada saat neneknya ini mengusap bagian tubuh di perut dan kepala korban merasa sakit. Dari cerita yang disampaikan ke neneknya korban sempat di tendang di bagian perut kalau kepala di pukul sama panci,” tuturnya.

Setelah keluarga mengetahui kejadian itu korban pada Kamis (24/7) kemudian dibawa ke rumah sakit sempat dirawat dan Jumat (25/7) menjalani operasi di RSUD Junjung Besaoh.

“Jadi mendiang ini Kamisnya di bawa ke rumah sakit, Jumat menjalani operasi hari Sabtu kritis dan meninggalnya hari Minggu (27/7) pada pukul 08.12 WIB,” katanya.

Ia berharap, kejadian yang menimpa keponakannyan ini dapat segera diselesaikan oleh pihak Polres Bangka Selatan.

“Terutama yang kita kejar yakni dari pihak sekolah yakni gurunya dan bukan pelaku, karena diduga telah ada unsur pembiaran perihal dugaan bullying yang diterima oleh ananda ini,” jelasnya.

“Apalagi sebelumnya ibu korban ini pernah kesekolahan menanyakan perihal orang berenam ini pada intinya apa yang dilakukan oleh para terduga pelaku ini. Tetapi dari pihak sekolah itu tanggapan tidak memperbolehkan untuk bertemu. Jadi kita tidak tahu apa yang harus kami mengobati kepada keponakan kami ini, apalagi dia hanya bercerita hanya pada neneknya itupun sudah dalam kondisi parah,” pungkasnya. (Ang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *