opini  

Menghadapi Perubahan Kerja di Era Society 5.0: Pentingnya Kompetensi Teknologi Informasi Bagi SDM

Tomi Sah

Penulis: Tomi Sah, S.E., M.P.A.
Mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Era Society 5.0 adalah paradigma baru yang menggabungkan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya yang berfokus pada mekanisasi, elektrifikasi, atau digitalisasi, Society 5.0 menekankan penggunaan teknologi cerdas, seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan Big Data, untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Transformasi ini membawa perubahan besar dalam cara kerja dan menuntut adaptasi cepat dari Sumber Daya Manusia (SDM).

Tantangan yang muncul di era ini mencakup ketergantungan tinggi pada teknologi, kebutuhan akan keterampilan baru, serta perubahan pola kerja yang lebih fleksibel. Namun, peluangnya juga tidak kalah besar, seperti efisiensi yang lebih tinggi, inovasi tanpa batas, dan terciptanya lapangan kerja baru. Kompetensi teknologi informasi menjadi landasan utama bagi SDM untuk tetap relevan dan berkontribusi di tengah perubahan.

Kemampuan untuk menguasai teknologi tidak hanya sekadar kebutuhan, tetapi juga menjadi faktor pembeda antara SDM yang sukses dan yang tertinggal. SDM yang adaptif dan inovatif akan mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi yang mendukung produktivitas dan daya saing di era Society 5.0.

Era Society 5.0: Revolusi Berbasis Manusia dan Teknologi

Society 5.0 merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Jepang sebagai respons terhadap tantangan Revolusi Industri 4.0. Fokus utama Society 5.0 adalah menciptakan keseimbangan antara teknologi maju dan kebutuhan manusia. Teknologi seperti AI, IoT, dan Big Data tidak hanya digunakan untuk efisiensi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Dalam dunia kerja, perubahan signifikan terlihat dalam otomatisasi proses, kolaborasi digital, dan meningkatnya fleksibilitas kerja. Contohnya, pekerjaan administratif yang dulunya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan dengan bantuan perangkat lunak otomatis. Kerja jarak jauh atau remote working juga semakin populer, didukung oleh platform digital yang memungkinkan kolaborasi real-time. Sektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan merasakan dampak signifikan. Dalam pendidikan, teknologi memungkinkan pembelajaran daring yang lebih interaktif. Di sektor kesehatan, IoT membantu pemantauan pasien secara real-time, sementara di pemerintahan, teknologi digunakan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan publik.

Perubahan Cara Kerja di Era Society 5.0

Digitalisasi proses kerja menjadi salah satu ciri utama Society 5.0. Proses manual yang memakan waktu kini digantikan oleh sistem otomatis yang lebih efisien. Hal ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga meningkatkan produktivitas organisasi. Tren kerja baru seperti gig economy, hybrid working, dan global talent pool semakin mendominasi. Gig economy, misalnya, membuka peluang bagi pekerja lepas untuk bekerja pada berbagai proyek dari perusahaan di seluruh dunia. Hybrid working menggabungkan kerja dari rumah dan kantor, memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi karyawan. Selain itu, global talent pool memungkinkan perusahaan merekrut talenta terbaik dari berbagai negara tanpa batasan geografis. Perubahan ini menuntut SDM untuk memiliki keterampilan teknologi yang kuat. Selain mampu mengoperasikan perangkat teknologi, SDM juga perlu memahami cara memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat dan strategis.

Pentingnya Kompetensi Teknologi Informasi bagi SDM

Kompetensi teknologi informasi menjadi syarat utama bagi SDM yang ingin tetap kompetitif di era Society 5.0. Keterampilan dasar seperti penguasaan perangkat lunak dan perangkat keras sudah menjadi kebutuhan mendasar. Lebih dari itu, pemahaman analisis data dan kecerdasan buatan juga menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan. Kemampuan keamanan siber juga menjadi perhatian penting. Dengan semakin banyaknya data yang diproses secara digital, ancaman terhadap keamanan informasi semakin besar. SDM yang memiliki kemampuan melindungi data perusahaan akan menjadi aset berharga. Manfaat dari kompetensi teknologi informasi sangat beragam. Pertama, efisiensi dan produktivitas kerja meningkat karena proses yang lebih cepat dan terintegrasi. Kedua, terbuka peluang karir baru di bidang teknologi, seperti analis data, pengembang perangkat lunak, dan spesialis keamanan siber. Ketiga, kompetensi ini mendorong inovasi dan kreativitas dalam menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Strategi Pengembangan Kompetensi Teknologi Informasi untuk SDM

Untuk mengembangkan kompetensi teknologi informasi, individu perlu mengambil langkah proaktif. Mengikuti pelatihan dan kursus online, seperti coding dan analisis data, adalah langkah awal yang penting. Membaca literatur terkini dan berjejaring dengan komunitas digital juga membantu individu tetap up-to-date dengan perkembangan teknologi.

Organisasi memiliki peran besar dalam mendukung pengembangan SDM. Memberikan fasilitas pelatihan teknologi kepada karyawan, membangun budaya kerja yang berbasis teknologi, dan berinvestasi pada tools serta platform digital adalah langkah strategis yang perlu diambil. Dengan menyediakan lingkungan yang kondusif untuk belajar, organisasi dapat memastikan SDM-nya siap menghadapi tantangan di era Society 5.0.

Pemerintah dan lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung literasi digital. Kebijakan yang mendorong akses pelatihan teknologi bagi masyarakat luas perlu diimplementasikan. Selain itu, integrasi keterampilan digital dalam kurikulum pendidikan akan mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi tantangan masa depan.

Tantangan dan Solusi dalam Mengembangkan Kompetensi Teknologi Informasi

Meski penting, pengembangan kompetensi teknologi informasi tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah resistensi terhadap perubahan. Banyak individu yang merasa nyaman dengan cara kerja lama dan enggan belajar hal baru. Selain itu, keterbatasan akses terhadap teknologi di wilayah tertentu juga menjadi hambatan.

Kesenjangan keterampilan antara generasi muda yang lebih melek teknologi dan generasi tua yang kurang terbiasa dengan teknologi juga menjadi masalah yang harus diatasi. Solusinya adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya teknologi melalui kampanye edukasi dan program pelatihan. Program subsidi untuk pelatihan teknologi juga dapat membantu menjangkau lebih banyak individu.

Pendekatan inklusif yang melibatkan semua tingkat usia dan latar belakang pendidikan diperlukan agar semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ini.

Kompetensi teknologi informasi adalah kunci utama bagi SDM untuk tetap kompetitif di era Society 5.0. Dengan teknologi yang semakin mendominasi berbagai aspek kehidupan, SDM perlu terus beradaptasi dan berinvestasi pada pengembangan keterampilan digital. Transformasi yang terjadi di era ini membawa tantangan sekaligus peluang besar. SDM yang mampu memanfaatkan teknologi secara efektif akan menjadi pendorong utama inovasi dan pertumbuhan.

Melalui langkah kolaboratif antara individu, organisasi, pemerintah, dan lembaga pendidikan, masa depan kerja yang lebih baik dan inklusif dapat tercapai. Saatnya kita beradaptasi dengan perubahan dan menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya saing di era Society 5.0. (**)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *